Tak Berkategori

Namaku Kalivta

Aku dikeluarkan dari rahim di tangan seorang petugas polisi. Sebab rahim itu membuatku kedinginan dan kelaparan. Rahim yang berusaha membunuhku. Rahim dari kardus, bekas mi instan.

Orang-orang dihadirkan ke dunia karena rasa cinta yang tumbuh di sekitar manusia. Aku dihadirkan ke dunia karena benih jahat sindikat perdagangan manusia.

Maret 1980, umurku 3 bulan. Saat sebuah rumah diserbu petugas. Sesuatu yang jahat terbongkar. Anak-anak pun dibebaskan. Dan itu aku, dimasukkan ambulan. Begitu kecil, begitu tak berdaya. Tapi aku masih hidup.

 

Waktu itu namaku belum Kalivta. Umurku baru 6 tahun. Saat kuberada di antara anak-anak yang memanggil semua pria ayah dan memanggil semua wanita ibu. Nanti saat kubertambah besar, kusadar mereka hanya memimpikan sesuatu yang mereka tak punya.

Waktu itu pula, hanya dua anak yang selalu di dekatku. Karena mereka tak bermimpi, atau tak mampu bermimpi. Seperti juga aku. Karena ibuku adalah hujan yang menumbuhkan tunas-tunas. Dan ayahku sinar matahari yang merekahkan kuncup bunga.

Aku selalu rindukan ibu, karena hujan tidak datang setiap hari. Saat malam ketika hujan adalah saatku leluasa bercengkrama dengan ibu, di suatu tempat yang orang tak mau menginjakkan kakinya. Ketika titik air merengkuhku, kurasakan ibu memelukku. Dan dua temanku ikut merasakannya, mereka tidak bermimpi. Mereka punya ibu, ibuku, yang turun dari langit.

 

Temanku kupanggil Ucung dan Awuk. Mereka memanggilku Kunti karena rambutku yang panjang. Ucung anak laki-laki yang mahir menggunakan kedua kakinya. Dia makan menggunakan kakinya. Sikat gigi, menulis, sampai menggaruk dengan kakinya. Dia tidak diijinkan menggunakan kedua tangannya, karena dia termasuk mahluk yang tak bertangan sejak lahir.

Awuk anak perempuan yang hanya bisa tertawa. Karena otaknya hanya bisa digunakan untuk itu. Selebihnya diam dan menangis. Tapi dia akan selalu tertawa saat ada di pelukan ibuku. Hingga kami bertiga basah dengan sayangnya yang berlimpah. Dan esok kami masih bisa tersenyum, karena ayah selalu siap menghangatkan badan kami.

 

Saat umurku 8 tahun, aku semakin tahu, setiap anak di sini punya harga sendiri-sendiri. Seperti barang yang dilabeli di rak-rak pasar swalayan. Ada barang yang mahal, ada juga yang masuk kategori obral. Masa kecilku pun seperti tak lepas dari kisaran perdagangan manusia, walau yang ini legal. Tapi dari hasil itu semua, kelangsungan hidup kami dapat dijamin di sini. Seperti hidup Ucung dan Awuk. Karena mereka barang tak berharga. Dibuang di jalanan pun tidak ada orang yang akan mengambilnya. Dan aku, aku seperti barang antik, terlihat mahal, tapi tersimpan di tempat yang pengap dan lembab, hingga orang malas untuk meraih. Karena aku tahu di mana tempatku, untuk bisa leluasa memandang langit, menebarkan rinduku pada ibu yang kan tiba. Mereka mengatakan aku keturunan yang tak nampak, yang menjelma manusia saat dimasukkan dalam kardus. Suka akan tempat-tempat gelap, yang akan memunculkan bau wangi yang anyir dari ruang-ruang singup. Tapi aku cuma bercengkrama dengan ibuku, bersama dua orang temanku, dan beberapa yang lain yang hanya aku yang tahu. Di sini, di tempat orang memalingkan pandangannya, aku bahagia.

 

Dan saatku telah tiba. Ketika sepasang pria dan wanita mendekatiku dengan mata penuh harap. Saat itu umurku makin bertambah untuk mengerti bahwa aku harus meninggalkan tempat ini. Bukan aku takut akan kehilangan ibuku. Aku tahu ibu tak kan pernah meninggalkanku selama langit masih di atasku. Tapi Ucung dan Awuk. Mereka tak kan bisa bertemu ibuku lagi tanpaku. Tapi aku sudah cukup umur untuk mengambil keputusan, bahwa dengan kepergianku ini, tempat ini akan bisa lebih lama lagi menghidupi mereka. Ucung dan Awuk tak lagi memerlukan ibuku. Mereka butuh makan. Dan untuk itu, aku tak perlu lagi berpamitan dengan mereka. Biar mereka tak menanyakan perihal ibuku. Akhirnya aku berjalan cepat menjinjing tasku, menuju mobil yang akan membawaku. Di kaca mobil kulihat tempat itu mulai menjauh, beberapa anak memandangi kepergianku di halaman, berharap mereka akan sepertiku kelak. Dan di sana aku tak melihat Ucung dan Awuk.

 

Namaku Kalivta…

Nama pemberian orang tua angkatku. Sebegitu indahnya nama itu hingga kulupa akan ibuku yang yang dulu selalu kurindu. Atau ibuku yang telah enggan menemuiku lagi pada titik-titik yang berjatuhan itu karena dia tak suka akan hidupku yang dimanja. Tapi disini aku menjadi sesuatu. Menjadi yang buatku berarti berubah bentuk seperti metamorfosa yang telah ditakdirkan pada kupu-kupu. Sesuatu itu adalah aku. Aku yang berlimpah kasih sayang. Tak satu sekecil apa yang tak datang padaku. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Dan yang harus kulakukan adalah untuk tak kecewakan mereka. Sekolahku begitu cepat. Tak ada yang tak kuserap. Dan inilah aku. Sesuatu yang menjadi. Sesuatu yang bisa mereka banggakan. Sampai mobil mengkilat itu kuterima saat aku berhasil masuk ke jurusan Teknik Kimia.

 

Beberapa tahun berselang, ketika kubegitu merasa menjadi diriku, saat kubelajar Ekotoksikologi, betapa kusadari dunia telah menjadi sebuah baskom yang kita di dalamnya teraduk-aduk di adonan yang penuh limbah dan racun. Modernisasi dan industrialisasi yang menjadi lambang kemajuan peradaban telah melahirkan generasi cacat di satu sisi tergelapnya. Sebut saja logam berat, polutan, bahan pengawet, peptisida dan zat-zat yang layaknya hantu penghisap darah. Berbagai rupa vampir itu telah menghisap darah-darah generasi yang akan dilahirkan. Generasi yang begitu tak berdaya. Mereka, korban-korban vampir itu, mereka yang ditinggalkan. Dan aku telah meninggalkan mereka. Sesaat kutersadar, aku telah begitu lupa akan Ucung dan Awuk.

 

Liburan semester kutekatkan untuk kembali ke tempatku dulu. Tempat dimana aku sering bertemu ibuku. Tapi saat kuada di sana, tempat itu telah rata dengan bumi. Lalu ada papan bertuliskan proyek pembangunan apartemen. Aku segera mencari tahu. Kukumpulkan semua informasi. Kulacak semua orang yang pernah berhubungan dengan tempat itu. Sampai kudapatkan berita tentang kematian Awuk. Tubuhnya hangus terbakar saat ada kebakaran di bagian belakang. Kebakaran yang mungkin disengaja. Lalu apa salah Awuk. Dia hanya mahluk yang tak berdaya. Siapa yang akan mempedulikannya waktu itu. Dan kematiannya pun seperti diharapkan, agar penderitaannya tak berketerusan atau agar tak ada lagi yang merasa terbebani. Lalu apakah arti penderitaan, apakah arti beban. Tapi dua kata itu yang menggencet tubuhku sekarang. Hatiku remuk. Karena saat kulihat bekas puing terbakar di belakang, kata-kata itu seperti tak sanggup menanggung maknanya lagi. Seperti juga kata penyesalanku di depan puing yang telah bercampur dengan sampah itu.

Lalu tak berapa lama kudapati berita tentang Ucung. Dia masih hidup. Keseharian dia ada di pinggir jalan protokol, menambal ban motor yang kebetulan kempes lewat di depannya. Orang yang pernah melihatnya bercerita bagaimana Ucung dengan hanya menggunakan dua kakinya mengerjakan pekerjaan itu dengan sepenuh raganya. Raga yang memang tak sempurna. Dengan mobilku, aku mencarinya di tempat biasanya dia berada. Tapi di sana tak kutemukan dia. Orang-orang bercerita tentang penertiban yang dilakukan Pemda seminggu yang lalu. Warung dan gerobag dibongkar.  Seseorang melihat Ucung diangkut ke dalam truk. Tak jauh sejengkal kutemukan ban motor yang tergantung di sebatang pohon. Tulisan TAMBAL BAN tak proporsional ada di kelilingnya. Aku tersimpuh. Sejauh mana lagi kan kutemukan Ucung. Sejauh itu pulakah yang harus dia alami, tak cukup dengan apa yang selama ini dia derita. Di mana ujung semua ini? Hingga air berguguran dari sudut mataku. Orang-orang pun melihat ke arahku, tapi apa peduli mereka pada Ucung. Tapi cukupkah pula kutersimpuh di sini? Semuanya tak kan cukup, seperti tak cukup redamnya jiwaku yang teriris-iris meratapi ban bekas di depanku.

 

 

Namaku Kalivta…

Saat kutemukan dunia begitu pongah, melenamu dalam belaian, hingga kau tak sadar telah jatuh ke jurangnya yang terjauh. Pun bila kau mampu berlari dan merasa menemukan jalanmu, kau tak tahu apa arti kata merasa, karena di sekitarmu berceceran jurang-jurang dalam. Hanya satu cara jika engkau ingin menemukan duniamu sendiri, kau harus tinggalkan dunia yang tak kau inginkan. Tidaklah mungkin bila kau ingin ke sana sementara kau masih di sini.

Seperti aku berdiri di tempat ini. Karena sudah saatnya aku mengakhiri sesuatu yang kuawali sejak aku dihadirkan dalam sebuah kardus. Suatu ketinggian akan membantu mewujudkan keinginanku. Sebab ketinggian ini akan memunculkan percepatan terhadap massa badanku atas gravitasi bumi. Dan ketinggian ini pulalah yang menciptakan tumbukan dari gaya tolak di hamparan yang akan menerimaku dengan tangan terbuka. Yang akhirnya dia akan menghantarku ke dunia yang kuinginkan. Dunia yang akan kuraih dengan satu reaksi fisika. Setelah itu, ketika jasadku melebur bagai serpihan bintang pada pori tanah, reaksi kimia akan menyelesaikan sisanya.

Saat kulepas pijakan ujung jariku, saat kuucapkan salam perpisahan dengan taburan bunga kesturi. Karena kutakmendendam, bahkan pada dunia yang telah memakan jantungku, menghisap darah suciku. Karena yang terjadi sekarang hanya menunggu…

27 meter menjadi jarak yang sepadan  pada semua yang kualami selama kubernafas.

20 meter lagi… aku menjadi seorang remaja yang berjalan di atas taman bunga tulip. Semua mahluk mengagumiku tak terkecuali srigala yang matanya jadi sayu di balik batang cemara.

15 meter… aku seorang anak perempuan di antara gelembung-gelembung besar yang mengangkatku ke udara. Tubuhku seringan bulatan-bulatan bening itu. Dan matahari siap menyambutku.

10 meter lagi… aku kembali ke tempat itu. Ketika kuditimang ibu saat rintik menerpaku. Tapi dia terlihat begitu marah. Mata lembut itu kini menghuncamku dengan sengatan yang mengecam. Seperti memaksaku mengingat sesuatu yang ada di sana. Dan memang kulihat Ucung dan Awuk duduk bersebelahan pada bayang gelap. Dengan suara lantang ibuku bilang mereka sudah lama ada di situ, menungguku. Mungkin setahun? Dua tahun? Bertahun-tahun? Mataku terbelalak, hatiku pun terkoyak. Ucung! Awuk! Ini aku, Kunti. Tapi mereka seperti patung yang tak bergerak.

5 meter lagi… hamparan itu mulai tersenyum untuk menerimaku. Saat tiba-tiba kuberontak, bukan ini yang harusnya kulakukan. Aku harus kembali. Ada yang harus aku lakukan di sana. Sesuatu yang lebih besar dari apapun yang telah kualami. Tapi kecepatan ini tak bisa dihentikan. Susah payah aku menolaknya. Sekuat tenaga kutahan tarikannya. Tapi hamparan itu semakin kuat menarikku mendekat padanya, hingga kumelesat begitu cepat, menghantam gelap.

 

 

Bandung, Juni 2000

 

Kupandangi gedung tinggi di depan langit merah. Dari lantai 9 itu, kujatuhkan diriku dua hari yang lalu. Dan di atasku berdiri, orang-orang menemukan tubuhku tergeletak. Malam itu harusnya kutakjatuh di sini. Tempat ini berjarak beberapa meter jauhnya dari titik kumeluncur ke bawah. Kutaktahu apa yang terjadi. Kupikir aku sudah mati karena memang seharusnya aku sudah mati. Tapi waktu itu, saat kubuka mataku, kuterbaring di rumah sakit. Beberapa bagian tubuhku diperban. Ada yang lembam dan lecet. Tapi hanya itu. Mereka bilang aku tergeletak tak sadarkan diri di taman. Aku masih hidup. Lama kutermenung saat terbaring. Orang-orang tak begitu peduli, seperti tak ada sesuatu yang harus dipedulikan. Bisa saja orang pingsan di taman saat berlari entah karena apa. Lalu dia ambruk di atas rumput yang juga entah karena apa. Barangkali ayan, vertigo, masuk angin atau sedang hilang ingatan. Tapi kusimpan sendiri kejadian itu.

Sampai kuberdiri di sini sekarang. Kembali ke dunia penuh mahluk penghisap darah. Aku harus kembali, meski kubelum benar-benar pergi. Sebab bila suatu saat kubertemu Ucung dan Awuk, apa yang kan kukatakan pada mereka? Kutelah tinggalkan mereka dengan kepongahan yang telah diwariskan dunia padaku. Lalu setelah semua yang terjadi, kutinggalkan diriku sendiri dengan keputusasaan atas kebengisan dunia pada kesempurnaanku yang suci. Kutinggalkan diriku seorang diri di sini, di kegelapan yang hanya bisa diraba, sementara kuinginkan suatu seperti semua orang menginginkan sesuatu. Lalu Ucung dan Awuk, apa yang mereka inginkan?

Maka di tanah inilah kakiku bertahan. Lalu kupandangi jumput rumput di depanku. Di sela-sela mereka, tergolek lembut bulu-bulu burung. Serabut halusnya gemulai tersentuh angin. Bulu-bulu itu bertebaran, melambai pelan, menandai tempatku terjatuh.

 

 

Bandung, Juli 2000

 

Ini yang kelima aku melompat dari gedung lantai 9. Gedung kesukaanku. Dan tampaknya menjatuhkan diri dari ketinggian ini menjadi satu ketagihan yang akut bagiku. Saat-saat ini adalah saat yang selalu kunanti, seperti penantian akan seteguk air gunung pada penghujung dahaga. Saat ketika angin keras mengangkat tinggi helai rambutku. Dan jutaan bintang bersorak menyambut kedatanganku. Ujung jari kakiku pun telah menyentuh tepi batas. Yang kulakukan hanya mengangkat tinggi tanganku. Membiarkan sentuhan angin menerpa kulitku, meresap ke tulang-tulangku. Lalu kujatuhkan tubuhku di belah udara, kurelakan ragaku pada gravitasi, angin pun mulai memelukku. Dan aku meluncur, tapi tak ke bawah. Karena bulu-bulu itu telah tumbuh. Menghantar angin di bawah bentang tanganku. Membuatku melayang, menuju kerlip bintang.

 

 

Namaku Kalivta…

Aku bukan manusia. Aku seorang malaikat, setengah orang setengah malaikat, mungkin. Aku bidadari, yang terlahir dari kotak kardus. Tapi aku bukan bidadari sampai dunia yang buruk rupa menusuk cawan emasku hingga retak. Lalu tetesan darah di rongga itu memaksa bulu-bulu keluar dari kulit tanganku, memekarkan sayap yang mengembang di bawah kemilau bulan. Membawaku melayang, menemukan duniaku di antara taburan bintang dan burung malam.

Tapi di suatu saat aku seorang iblis, setengah orang setengah iblis, mungkin. Ketika dendam itu tersulut karena kuharus melawan ingatanku sendiri. Bayang-bayang itu kadang tak mau hilang, menarikku dari dunia yang kupunya sekarang, membenamkanku ke tempat nista itu, di sebuah kota berjuluk neraka. Tapi begitu sadar siapa aku, kutakmerasa takut lagi. Apa yang musti kutakutkan di tempat yang memang aku harus di sini. Dan begitu tanduk itu muncul di dahiku, tempat ini jadi kekuasaanku. Keberanianku membesar menjadi amarah, amarah yang melahirkan kebencian. Hingga semua tabir gelap tak ada yang tak bisa kusingkap. Dengan tanduk yang tersambung ke serat pembuluh otakku, darah liarku terus mengalir ke ujungnya yang runcing, mengacung pada kebencian yang harus kutumpahkan. Karena bau nafas yang kubenci itu, juga bau keringat yang membuatku jijik, tak lepas dari acung tandukku. Saat kumelayang, kutemukan belati di tanganku, benda kemilau itu turun dari langit yang kini telah dipenuhi dengan api. Dan manusia dengan pergelangan tangan bergambar daun ganja itu ada di sana, terlihat jelas di pucuk tandukku, sejelas bayangannya di pantulan tajamnya belati. Hingga cengkramanku adalah amarah dengan tangan-tangan kebencian yang membuatnya tak berdaya. Lalu kutancapkan belati di tiap inci tubuhnya. Darah yang mengotori tubuhku adalah tebusan tetes darahku yang terengut. Di puncak kebencianku, aku jadi semakin kuat. Semakin buas untuk mengoyak isi perutnya dan memakan jantungnya. Lalu semua belenggu itu lepas, aku menjadi mahluk yang bebas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s