Tak Berkategori

Namaku Kalivta

Aku dikeluarkan dari rahim di tangan seorang petugas polisi. Sebab rahim itu membuatku kedinginan dan kelaparan. Rahim yang berusaha membunuhku. Rahim dari kardus, bekas mi instan.

Orang-orang dihadirkan ke dunia karena rasa cinta yang tumbuh di sekitar manusia. Aku dihadirkan ke dunia karena benih jahat sindikat perdagangan manusia.

Maret 1980, umurku 3 bulan. Saat sebuah rumah diserbu petugas. Sesuatu yang jahat terbongkar. Anak-anak pun dibebaskan. Dan itu aku, dimasukkan ambulan. Begitu kecil, begitu tak berdaya. Tapi aku masih hidup.

 

Waktu itu namaku belum Kalivta. Umurku baru 6 tahun. Saat kuberada di antara anak-anak yang memanggil semua pria ayah dan memanggil semua wanita ibu. Nanti saat kubertambah besar, kusadar mereka hanya memimpikan sesuatu yang mereka tak punya.

Waktu itu pula, hanya dua anak yang selalu di dekatku. Karena mereka tak bermimpi, atau tak mampu bermimpi. Seperti juga aku. Karena ibuku adalah hujan yang menumbuhkan tunas-tunas. Dan ayahku sinar matahari yang merekahkan kuncup bunga.

Aku selalu rindukan ibu, karena hujan tidak datang setiap hari. Saat malam ketika hujan adalah saatku leluasa bercengkrama dengan ibu, di suatu tempat yang orang tak mau menginjakkan kakinya. Ketika titik air merengkuhku, kurasakan ibu memelukku. Dan dua temanku ikut merasakannya, mereka tidak bermimpi. Mereka punya ibu, ibuku, yang turun dari langit.

 

Temanku kupanggil Ucung dan Awuk. Mereka memanggilku Kunti karena rambutku yang panjang. Ucung anak laki-laki yang mahir menggunakan kedua kakinya. Dia makan menggunakan kakinya. Sikat gigi, menulis, sampai menggaruk dengan kakinya. Dia tidak diijinkan menggunakan kedua tangannya, karena dia termasuk mahluk yang tak bertangan sejak lahir.

Awuk anak perempuan yang hanya bisa tertawa. Karena otaknya hanya bisa digunakan untuk itu. Selebihnya diam dan menangis. Tapi dia akan selalu tertawa saat ada di pelukan ibuku. Hingga kami bertiga basah dengan sayangnya yang berlimpah. Dan esok kami masih bisa tersenyum, karena ayah selalu siap menghangatkan badan kami.

 

Saat umurku 8 tahun, aku semakin tahu, setiap anak di sini punya harga sendiri-sendiri. Seperti barang yang dilabeli di rak-rak pasar swalayan. Ada barang yang mahal, ada juga yang masuk kategori obral. Masa kecilku pun seperti tak lepas dari kisaran perdagangan manusia, walau yang ini legal. Tapi dari hasil itu semua, kelangsungan hidup kami dapat dijamin di sini. Seperti hidup Ucung dan Awuk. Karena mereka barang tak berharga. Dibuang di jalanan pun tidak ada orang yang akan mengambilnya. Dan aku, aku seperti barang antik, terlihat mahal, tapi tersimpan di tempat yang pengap dan lembab, hingga orang malas untuk meraih. Karena aku tahu di mana tempatku, untuk bisa leluasa memandang langit, menebarkan rinduku pada ibu yang kan tiba. Mereka mengatakan aku keturunan yang tak nampak, yang menjelma manusia saat dimasukkan dalam kardus. Suka akan tempat-tempat gelap, yang akan memunculkan bau wangi yang anyir dari ruang-ruang singup. Tapi aku cuma bercengkrama dengan ibuku, bersama dua orang temanku, dan beberapa yang lain yang hanya aku yang tahu. Di sini, di tempat orang memalingkan pandangannya, aku bahagia.

 

Dan saatku telah tiba. Ketika sepasang pria dan wanita mendekatiku dengan mata penuh harap. Saat itu umurku makin bertambah untuk mengerti bahwa aku harus meninggalkan tempat ini. Bukan aku takut akan kehilangan ibuku. Aku tahu ibu tak kan pernah meninggalkanku selama langit masih di atasku. Tapi Ucung dan Awuk. Mereka tak kan bisa bertemu ibuku lagi tanpaku. Tapi aku sudah cukup umur untuk mengambil keputusan, bahwa dengan kepergianku ini, tempat ini akan bisa lebih lama lagi menghidupi mereka. Ucung dan Awuk tak lagi memerlukan ibuku. Mereka butuh makan. Dan untuk itu, aku tak perlu lagi berpamitan dengan mereka. Biar mereka tak menanyakan perihal ibuku. Akhirnya aku berjalan cepat menjinjing tasku, menuju mobil yang akan membawaku. Di kaca mobil kulihat tempat itu mulai menjauh, beberapa anak memandangi kepergianku di halaman, berharap mereka akan sepertiku kelak. Dan di sana aku tak melihat Ucung dan Awuk.

 

Namaku Kalivta…

Nama pemberian orang tua angkatku. Sebegitu indahnya nama itu hingga kulupa akan ibuku yang yang dulu selalu kurindu. Atau ibuku yang telah enggan menemuiku lagi pada titik-titik yang berjatuhan itu karena dia tak suka akan hidupku yang dimanja. Tapi disini aku menjadi sesuatu. Menjadi yang buatku berarti berubah bentuk seperti metamorfosa yang telah ditakdirkan pada kupu-kupu. Sesuatu itu adalah aku. Aku yang berlimpah kasih sayang. Tak satu sekecil apa yang tak datang padaku. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Dan yang harus kulakukan adalah untuk tak kecewakan mereka. Sekolahku begitu cepat. Tak ada yang tak kuserap. Dan inilah aku. Sesuatu yang menjadi. Sesuatu yang bisa mereka banggakan. Sampai mobil mengkilat itu kuterima saat aku berhasil masuk ke jurusan Teknik Kimia.

 

Beberapa tahun berselang, ketika kubegitu merasa menjadi diriku, saat kubelajar Ekotoksikologi, betapa kusadari dunia telah menjadi sebuah baskom yang kita di dalamnya teraduk-aduk di adonan yang penuh limbah dan racun. Modernisasi dan industrialisasi yang menjadi lambang kemajuan peradaban telah melahirkan generasi cacat di satu sisi tergelapnya. Sebut saja logam berat, polutan, bahan pengawet, peptisida dan zat-zat yang layaknya hantu penghisap darah. Berbagai rupa vampir itu telah menghisap darah-darah generasi yang akan dilahirkan. Generasi yang begitu tak berdaya. Mereka, korban-korban vampir itu, mereka yang ditinggalkan. Dan aku telah meninggalkan mereka. Sesaat kutersadar, aku telah begitu lupa akan Ucung dan Awuk.

 

Liburan semester kutekatkan untuk kembali ke tempatku dulu. Tempat dimana aku sering bertemu ibuku. Tapi saat kuada di sana, tempat itu telah rata dengan bumi. Lalu ada papan bertuliskan proyek pembangunan apartemen. Aku segera mencari tahu. Kukumpulkan semua informasi. Kulacak semua orang yang pernah berhubungan dengan tempat itu. Sampai kudapatkan berita tentang kematian Awuk. Tubuhnya hangus terbakar saat ada kebakaran di bagian belakang. Kebakaran yang mungkin disengaja. Lalu apa salah Awuk. Dia hanya mahluk yang tak berdaya. Siapa yang akan mempedulikannya waktu itu. Dan kematiannya pun seperti diharapkan, agar penderitaannya tak berketerusan atau agar tak ada lagi yang merasa terbebani. Lalu apakah arti penderitaan, apakah arti beban. Tapi dua kata itu yang menggencet tubuhku sekarang. Hatiku remuk. Karena saat kulihat bekas puing terbakar di belakang, kata-kata itu seperti tak sanggup menanggung maknanya lagi. Seperti juga kata penyesalanku di depan puing yang telah bercampur dengan sampah itu.

Lalu tak berapa lama kudapati berita tentang Ucung. Dia masih hidup. Keseharian dia ada di pinggir jalan protokol, menambal ban motor yang kebetulan kempes lewat di depannya. Orang yang pernah melihatnya bercerita bagaimana Ucung dengan hanya menggunakan dua kakinya mengerjakan pekerjaan itu dengan sepenuh raganya. Raga yang memang tak sempurna. Dengan mobilku, aku mencarinya di tempat biasanya dia berada. Tapi di sana tak kutemukan dia. Orang-orang bercerita tentang penertiban yang dilakukan Pemda seminggu yang lalu. Warung dan gerobag dibongkar.  Seseorang melihat Ucung diangkut ke dalam truk. Tak jauh sejengkal kutemukan ban motor yang tergantung di sebatang pohon. Tulisan TAMBAL BAN tak proporsional ada di kelilingnya. Aku tersimpuh. Sejauh mana lagi kan kutemukan Ucung. Sejauh itu pulakah yang harus dia alami, tak cukup dengan apa yang selama ini dia derita. Di mana ujung semua ini? Hingga air berguguran dari sudut mataku. Orang-orang pun melihat ke arahku, tapi apa peduli mereka pada Ucung. Tapi cukupkah pula kutersimpuh di sini? Semuanya tak kan cukup, seperti tak cukup redamnya jiwaku yang teriris-iris meratapi ban bekas di depanku.

 

 

Namaku Kalivta…

Saat kutemukan dunia begitu pongah, melenamu dalam belaian, hingga kau tak sadar telah jatuh ke jurangnya yang terjauh. Pun bila kau mampu berlari dan merasa menemukan jalanmu, kau tak tahu apa arti kata merasa, karena di sekitarmu berceceran jurang-jurang dalam. Hanya satu cara jika engkau ingin menemukan duniamu sendiri, kau harus tinggalkan dunia yang tak kau inginkan. Tidaklah mungkin bila kau ingin ke sana sementara kau masih di sini.

Seperti aku berdiri di tempat ini. Karena sudah saatnya aku mengakhiri sesuatu yang kuawali sejak aku dihadirkan dalam sebuah kardus. Suatu ketinggian akan membantu mewujudkan keinginanku. Sebab ketinggian ini akan memunculkan percepatan terhadap massa badanku atas gravitasi bumi. Dan ketinggian ini pulalah yang menciptakan tumbukan dari gaya tolak di hamparan yang akan menerimaku dengan tangan terbuka. Yang akhirnya dia akan menghantarku ke dunia yang kuinginkan. Dunia yang akan kuraih dengan satu reaksi fisika. Setelah itu, ketika jasadku melebur bagai serpihan bintang pada pori tanah, reaksi kimia akan menyelesaikan sisanya.

Saat kulepas pijakan ujung jariku, saat kuucapkan salam perpisahan dengan taburan bunga kesturi. Karena kutakmendendam, bahkan pada dunia yang telah memakan jantungku, menghisap darah suciku. Karena yang terjadi sekarang hanya menunggu…

27 meter menjadi jarak yang sepadan  pada semua yang kualami selama kubernafas.

20 meter lagi… aku menjadi seorang remaja yang berjalan di atas taman bunga tulip. Semua mahluk mengagumiku tak terkecuali srigala yang matanya jadi sayu di balik batang cemara.

15 meter… aku seorang anak perempuan di antara gelembung-gelembung besar yang mengangkatku ke udara. Tubuhku seringan bulatan-bulatan bening itu. Dan matahari siap menyambutku.

10 meter lagi… aku kembali ke tempat itu. Ketika kuditimang ibu saat rintik menerpaku. Tapi dia terlihat begitu marah. Mata lembut itu kini menghuncamku dengan sengatan yang mengecam. Seperti memaksaku mengingat sesuatu yang ada di sana. Dan memang kulihat Ucung dan Awuk duduk bersebelahan pada bayang gelap. Dengan suara lantang ibuku bilang mereka sudah lama ada di situ, menungguku. Mungkin setahun? Dua tahun? Bertahun-tahun? Mataku terbelalak, hatiku pun terkoyak. Ucung! Awuk! Ini aku, Kunti. Tapi mereka seperti patung yang tak bergerak.

5 meter lagi… hamparan itu mulai tersenyum untuk menerimaku. Saat tiba-tiba kuberontak, bukan ini yang harusnya kulakukan. Aku harus kembali. Ada yang harus aku lakukan di sana. Sesuatu yang lebih besar dari apapun yang telah kualami. Tapi kecepatan ini tak bisa dihentikan. Susah payah aku menolaknya. Sekuat tenaga kutahan tarikannya. Tapi hamparan itu semakin kuat menarikku mendekat padanya, hingga kumelesat begitu cepat, menghantam gelap.

 

 

Bandung, Juni 2000

 

Kupandangi gedung tinggi di depan langit merah. Dari lantai 9 itu, kujatuhkan diriku dua hari yang lalu. Dan di atasku berdiri, orang-orang menemukan tubuhku tergeletak. Malam itu harusnya kutakjatuh di sini. Tempat ini berjarak beberapa meter jauhnya dari titik kumeluncur ke bawah. Kutaktahu apa yang terjadi. Kupikir aku sudah mati karena memang seharusnya aku sudah mati. Tapi waktu itu, saat kubuka mataku, kuterbaring di rumah sakit. Beberapa bagian tubuhku diperban. Ada yang lembam dan lecet. Tapi hanya itu. Mereka bilang aku tergeletak tak sadarkan diri di taman. Aku masih hidup. Lama kutermenung saat terbaring. Orang-orang tak begitu peduli, seperti tak ada sesuatu yang harus dipedulikan. Bisa saja orang pingsan di taman saat berlari entah karena apa. Lalu dia ambruk di atas rumput yang juga entah karena apa. Barangkali ayan, vertigo, masuk angin atau sedang hilang ingatan. Tapi kusimpan sendiri kejadian itu.

Sampai kuberdiri di sini sekarang. Kembali ke dunia penuh mahluk penghisap darah. Aku harus kembali, meski kubelum benar-benar pergi. Sebab bila suatu saat kubertemu Ucung dan Awuk, apa yang kan kukatakan pada mereka? Kutelah tinggalkan mereka dengan kepongahan yang telah diwariskan dunia padaku. Lalu setelah semua yang terjadi, kutinggalkan diriku sendiri dengan keputusasaan atas kebengisan dunia pada kesempurnaanku yang suci. Kutinggalkan diriku seorang diri di sini, di kegelapan yang hanya bisa diraba, sementara kuinginkan suatu seperti semua orang menginginkan sesuatu. Lalu Ucung dan Awuk, apa yang mereka inginkan?

Maka di tanah inilah kakiku bertahan. Lalu kupandangi jumput rumput di depanku. Di sela-sela mereka, tergolek lembut bulu-bulu burung. Serabut halusnya gemulai tersentuh angin. Bulu-bulu itu bertebaran, melambai pelan, menandai tempatku terjatuh.

 

 

Bandung, Juli 2000

 

Ini yang kelima aku melompat dari gedung lantai 9. Gedung kesukaanku. Dan tampaknya menjatuhkan diri dari ketinggian ini menjadi satu ketagihan yang akut bagiku. Saat-saat ini adalah saat yang selalu kunanti, seperti penantian akan seteguk air gunung pada penghujung dahaga. Saat ketika angin keras mengangkat tinggi helai rambutku. Dan jutaan bintang bersorak menyambut kedatanganku. Ujung jari kakiku pun telah menyentuh tepi batas. Yang kulakukan hanya mengangkat tinggi tanganku. Membiarkan sentuhan angin menerpa kulitku, meresap ke tulang-tulangku. Lalu kujatuhkan tubuhku di belah udara, kurelakan ragaku pada gravitasi, angin pun mulai memelukku. Dan aku meluncur, tapi tak ke bawah. Karena bulu-bulu itu telah tumbuh. Menghantar angin di bawah bentang tanganku. Membuatku melayang, menuju kerlip bintang.

 

 

Namaku Kalivta…

Aku bukan manusia. Aku seorang malaikat, setengah orang setengah malaikat, mungkin. Aku bidadari, yang terlahir dari kotak kardus. Tapi aku bukan bidadari sampai dunia yang buruk rupa menusuk cawan emasku hingga retak. Lalu tetesan darah di rongga itu memaksa bulu-bulu keluar dari kulit tanganku, memekarkan sayap yang mengembang di bawah kemilau bulan. Membawaku melayang, menemukan duniaku di antara taburan bintang dan burung malam.

Tapi di suatu saat aku seorang iblis, setengah orang setengah iblis, mungkin. Ketika dendam itu tersulut karena kuharus melawan ingatanku sendiri. Bayang-bayang itu kadang tak mau hilang, menarikku dari dunia yang kupunya sekarang, membenamkanku ke tempat nista itu, di sebuah kota berjuluk neraka. Tapi begitu sadar siapa aku, kutakmerasa takut lagi. Apa yang musti kutakutkan di tempat yang memang aku harus di sini. Dan begitu tanduk itu muncul di dahiku, tempat ini jadi kekuasaanku. Keberanianku membesar menjadi amarah, amarah yang melahirkan kebencian. Hingga semua tabir gelap tak ada yang tak bisa kusingkap. Dengan tanduk yang tersambung ke serat pembuluh otakku, darah liarku terus mengalir ke ujungnya yang runcing, mengacung pada kebencian yang harus kutumpahkan. Karena bau nafas yang kubenci itu, juga bau keringat yang membuatku jijik, tak lepas dari acung tandukku. Saat kumelayang, kutemukan belati di tanganku, benda kemilau itu turun dari langit yang kini telah dipenuhi dengan api. Dan manusia dengan pergelangan tangan bergambar daun ganja itu ada di sana, terlihat jelas di pucuk tandukku, sejelas bayangannya di pantulan tajamnya belati. Hingga cengkramanku adalah amarah dengan tangan-tangan kebencian yang membuatnya tak berdaya. Lalu kutancapkan belati di tiap inci tubuhnya. Darah yang mengotori tubuhku adalah tebusan tetes darahku yang terengut. Di puncak kebencianku, aku jadi semakin kuat. Semakin buas untuk mengoyak isi perutnya dan memakan jantungnya. Lalu semua belenggu itu lepas, aku menjadi mahluk yang bebas.

fiksi · Novel

Namaku Kleo

Mereka mencintaiku, ya semua orang mencintaiku, bahkan yang bukan orang. Setan, demit, peri, apalah orang sebut. Yang orang tak lihat. Mereka temanku. Dulu, ya waktu dulu, mereka selalu menemaniku. Walau saat ini aku sudah enggan untuk ditemani.

Orang bilang aku disingkirkan orang tuaku. Tapi tidak, aku tahu ibuku mencintaiku lebih dari apapun, lebih dari adikku yang pantas dibanggakan. Meski aku selalu ingat saat meronta di depan gerbang yang terkunci, tangisku meledak dan tanganku mengguncang kuat jeruji besi itu. Saat itu umurku lima tahun. Saat orang tuaku menjauh meninggalkanku. Tapi yang paling tergambar di ingatanku adalah tatapan ibuku. Di wajah tegar itu, matanya tak sanggup membendung lelehan yang mengalir deras.

Karena hanya kakekku yang bisa menjinakkan iblis dalam diriku. Setidaknya itu kata kerabat saat menasehati ibuku. Karena itulah aku dititipkan pada kakekku, eyang kakungku. Dibuang jauh dari orang tuaku. Sampai suatu saat aku tahu, eyang benar-benar mencintaiku, lebih dari apapun, lebih dari hartanya, lebih dari istri ke empatnya yang seumuran denganku.

Aku adalah keturunan kakekku. Seorang ksatria yang tak patut dicontoh. Seorang pengkianat yang dikagumi. Orang yang sangat dibenci dan sangat dicintai. Setidaknya itu kata kerabatnya. Aku dianggap titisan eyang kakungku. Tapi suatu saat eyang berkata, kamu tidak dibenci nak, kamu hanya dicintai.

Saat pertama dibuang di tempat kakekku, aku hanya merasa itu akhir hidupku. Aku harus tidur di kamar redup. Tidak seperti kamarku yang ber-ac dan kasurnya spring bed. Kasur itu keras dan membuatku gatal. Yang bisa kupandangi cuma tembok tua dan langit-langit tinggi yang mulai menghitam. Tapi perasaan itu hanya sebentar. Saat kutahu semua temanku ada di situ. Mudah bagi mereka untuk selalu mengikutiku. Tapi aku jadi tidak merasa sendiri lagi. Aku adalah anak yang tak pernah kesepian. Di umur bocah sekalipun, aku punya teman-teman yang setia. Ya, karena mereka semua mencintaiku.

Pagi pertama membuatku berpikir, mungkin ini akan jadi tempat yang lebih baik buatku, buat anak buangan. Saat cahaya awal menembus jendela bertralis besi, seorang ibu tua kurus menyapaku dengan senyum yang melihatkan gigi ompongnya. Meletakkan gelas besi berwarna hijau telur di meja samping ranjang. Denmas ini tehnya. Perempuan tua itu memanggilku Denmas. Dan semua orang di rumah itu begitu sibuk melayaniku dengan riang. Setidaknya itu yang kurasakan saat itu. Seseorang mencopot bajuku dan memasukkan ke keranjang yang dibawanya. Seorang lagi memandikanku dengan air hangat yang telah disiapkan seorang lagi. Lalu seorang menyuapiku dengan lauk sarapan yang telah disiapkan seorang lagi. Dan seorang lagi, yang paling muda, menemaniku, mengajakku berkeliling. Dan di pagi itu aku melihat kakekku untuk pertama kali. Kulihat dia di kejauhan sedang mencangkuli sawah di cahaya pagi yang memunculkan biru gunung di belakang sana. Umurnya sudah menjelang tujuh puluh. Tapi dengan telanjang dada, dia begitu tangkas menancapkan cangkulnya ke tanah berlumpur. Simbahmu itu sakti Ndoro, kata mbak yang menemaniku, dia memanggilku Ndoro. Dan kesaktian itu akan menurun ke Ndoro.

Ibuku sangat membenci kakekku. Setidaknya itu yang kurasakan saat dia bercerita. Nenekku adalah istri pertama kakekku dan ibuku adalah anak satu-satunya. Saat kakekku akan menikah lagi, nenekku terus berlari melewati pematang sawah, menembus rimbun padi yang ranum, meninggalkan cucuran air mata di tiap langkahnya. Sampai orang beramai-ramai menghentikannya hingga akhirnya dia pingsan.

Bapakku adalah semua kebalikan sifat kakekku, kata ibuku. Dia mencintai tanpa berharap untuk dicintai. Itulah kenapa ibuku menikahinya. Tapi di saat aku bahkan baru bisa mandi sendiri, orang-orang sudah mengatakan aku adalah kebalikan sifat bapakku. Aku adalah sifat kakekku. Dan tempatku adalah di tempat kakekku.

Tapi orang-orang dusun itu mencintai kakekku. Mencintai sepenuhnya. Dia adalah raja. Raja yang menghidupi rakyatnya. Tapi suatu saat dia berkata, aku hanya seorang buangan yang berusaha menolong orang-orang di tempatku terbuang. Banyak orang yang mengerjakan sawah kakekku. Tapi dia tetap tak pernah tak menyentuh cangkulnya. Kakekku membangun tempat penggilingan padi. Aku ingat saat diajaknya mencari mesin penggiling padi. Dia hanya bertanya sedikit pada penjualnya, niki mesin kangge nopo to? (ini mesin buat apa?). Lalu dia membeli empat unit. Dusun itupun jadi tempat lebih baik. Karena itulah mereka mencintai kakekku. Dan karena itulah mereka mencintaiku.

Pernah orang mengatakan aku anak iblis. Tapi aku tak percaya. Ibuku perempuan yang anggun dan pintar. Bapakku seorang yang cerdas dan bijaksana. Bagaimana bisa aku anak iblis. Mereka yang mengatakan itu, melihat iblispun belum pernah. Jadi mengapa harus kupedulikan. Lalu orang-orang tak percaya kalau orang tuaku mencintaiku. Tapi aku percaya. Karena suatu saat aku mengerti, orang yang mencintaiku membuangku ke tempat lebih banyak lagi orang mencintaiku. Lalu bagaimana dengan orang yang membenciku. Ah, mereka tidak membenciku. Mereka hanya tak tahu cara mengatakannya.

Iblis pun akan mencintaimu nak, kata kakekku suatu saat, apalagi cuma mereka. Karena kamu lahir tepat di awal tahun. Kamu adalah manusia pertama di tahun yang baru itu. Kamu seperti Adam, laki-laki pertama. Semua orang di sekitarmu adalah Hawa. Lalu dia mengusap tanganku. Ada sesuatu di tanganmu nak, kamu bukan orang sembarangan.

Ada sesuatu di tanganku. Teman-temanku juga mengatakan begitu saat aku masih tinggal bersama bapak ibuku. Aku tak mempedulikannya hingga suatu saat terjadi kebakaran di rumah orang tuaku. Tapi aku hanya ingin menolong teman-temanku. Itu juga karena rasa takut saat itu, kaget ataupun marah aku tak jelas. Karena waktu itu tiba-tiba muncul mahluk sebesar rumah dari dapur. Aku pikir mahluk itu ingin menyakiti teman-temanku. Aku tak tahu api itu keluar dari mana. Tapi mahluk itu ludes terbakar. Lalu aku sadar api mulai menjilat dapur, hingga seorang merengutku menjauh dari kobaran dan orang-orang pun beramai-ramai memadamkan api yang telah membesar.

Tapi bukan karena tanganku, aku membuat takut ibuku. Saat itu aku sedang menaiki kalong, temanku yang bersayap. Lalu ibuku membuka pintu kamarku, menatapku dari bawah, melihatku melayang di langit-langit. Dan kulihat dia tersungkur ke lantai, wajahnya pucat, mulutnya tertutup tangannya. Hingga orang-orang pun mulai membicarakan diriku. Anak yang suka bicara sendiri, anak kesurupan, anak setan. Dan beberapa orang mulai mendatangiku, walau bapak ibuku tampaknya tak menyetujuinya. Ada yang berbaju putih, ada yang berbaju hitam, ada yang warna-warni. Mereka cuma komat-kamit, menyembur air atau bermain asap. Tapi aku senang, karena aku selalu geli melihat tingkah mereka. Hingga suatu saat aku begitu senangnya bermain kejar-kejaran. Aku menaiki jeliteng, temanku yang berkaki kuda. Di depan pintu kamar mandi aku menabrak ibuku. Dia sedang hamil delapan bulan. Saat itu dia langsung dilarikan ke rumah sakit. Bayinya -adikku – hampir mati saat dikeluarkan. Dan akhirnya ibuku pun menyetujui untuk menitipkan aku ke tempat kakekku.

Aku tahu orang diluar dusun ini membenci kakekku saat aku mulai masuk sekolah. Aku tak bisa masuk SD kecamatan. Mereka tak mau menerima keturunan seorang tukang teluh, penguasa ilmu hitam, pemuja pesugihan. Orang-orang itu percaya kekayaan kakekku berasal dari semedi. Mereka percaya kakekku punya ilmu kebal, ajian menghilang dan punya pasukan dari segala setan dan iblis. Tapi aku tak melihatnya seperti itu. Kakekku seorang pekerja keras, pintar mengatur uangnya. Dan mahluk tak terlihat yang mengikutinya itu, mereka cuma mencintai kakekku. Seperti teman-temanku mencintaiku.

Akhirnya aku masuk SD inpres di dusunku yang temboknya hampir roboh. Banyak murid yang tak memakai sepatu. Beberapa baju mereka kancingnya tidak lengkap. Aku merasa jadi orang paling beruntung di situ. Setidaknya mereka menganggapku cucu penguasa. Tapi seperti kata kakekku, semua manusia sama jika telanjang, yang beda cuma yang ada di kepala.

Tidak butuh lama aku dicintai semua guru. Sampai ketika mereka mengajukan satu pertanyaan di depan kelas, aku tak boleh menunjuk tangan lagi. Gantian yang lain, kata mereka. Bagiku ini serasa aneh, pertanyaan yang mudah itu satu kelas tidak ada yang tahu. Tapi aku jadi bisa menggambar saat mereka membahas pelajaran yang itu-itu saja. Atau diam-diam bercanda dengan piyik, temanku yang sebesar anak ayam, dia sering mengikutiku ke sekolah.

Aku tak ingin jadi juara kelas terus. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga, mudah aku mendapatkannya. Ya, karena aku tak punya pesaing di sekolah itu. Kecuali dua sahabatku yang termasuk pintar di kelas, Poe dan Sugeng.

Poe, anak yang sejak kecil ditinggal mati bapaknya. Adiknya empat. Ibunya hanya pengumpul batu untuk dipecah jadi kerikil. Saat musim panen dia bekerja pada kakekku. Yang mereka punya cuma rumah gubug dan empat kambing tua yang kandangnya jadi satu dengan tempat mereka tinggal.

Sugeng lebih kecukupan. Bapaknya tokoh lama di dusun. Sering ketemu kakekku jika ada urusan genting. Kakak-kakaknya ada yang jadi guru, pegawai kecamatan dan penyuluh pertanian.

Waktu kelas empat, aku sengaja mengalah di beberapa pelajaran. Di akhir tahun Poe jadi juara kelas. Saat kelas lima giliran Sugeng juara. Belakangan aku tahu mereka tahu kalau aku sengaja mengalah. Tapi aku pura-pura tak tahu kalau mereka tahu. Dan aku tahu mereka mencintaiku.

Bahkan gerombolan anak bandel di kelas pun mencintaiku. Mereka yang langganan disetrap guru. Mereka memanggilku Bagio. Seperti Roberto Baggio. Aku adalah striker andalan tim sekolahku. Kebanyakan anak-anak bandel itu bertubuh dempal dan besar. Mereka hanya cocok untuk pemain bertahan. Mereka begitu mengelukanku ketika aku membawa tim juara tingkat kecamatan. Tapi waktu final tingkat kabupaten aku cedera dan kami pun kalah. Tapi mereka tetap menyanjungku. Mereka yang ke sekolah membawa arit, karena tiap pulang sekolah sekalian mencari rumput untuk dibawa pulang sebagai pakan kerbau dan kambing. Aku, Poe dan Sugeng menyebut mereka geng clurit. Banyak murid takut berpapasan dengan mereka, yang mempunyai kebiasaan main ludah dan kencing di jalan sembarangan. Tapi saat aku bertemu geng clurit, mereka selalu menyebut namaku, Bagio, Bagio, Bagio.

Sugeng tidak suka geng clurit. Tapi bagaimanapun kami tetap satu tongkrongan saat bel masuk belum berbunyi. Karena biasanya sebuah sedan hitam lewat di jalan depan sekolah. Mengantar seorang anak perempuan berseragam sekolah seumuran kami. Aku dengar namanya Rani. Anak kompleks yang sekolah di SD kecamatan. Beberapa kompleks perumahan memang mulai dibangun di sekitar dusun. Semua anak kompleks sekolah di SD kecamatan. Minimal mereka diantar motor karena jarak kecamatan cukup jauh. Rani pasti anak orang berada di kompleksnya. Dan bila saat penantian tiba, anak-anak geng clurit mulai tak berkedip. Bibir mereka seperti tumpah. Karena hanya beberapa detik Rani terlihat di kaca mobil duduk di belakang. Rambutnya panjang selalu diikat ke belakang. Matanya bulat menatap ke depan tak peduli. Putri kayangan itu seperti tak peduli apapun. Juga tak peduli kami. Tak ada yang bersuara saat itu. Tapi setelah sedan menghilang, geng clurit mulai riuh. Biasanya diakhiri omongan jorok, sampai kelakar tentang memperkosa Rani. Salome, satu lubang rame-rame. Aku tahu mereka begitu lebih karena Rani anak orang kaya. Dan kulihat wajah sahabatku begitu kesal. Sugeng diam-diam tak terima gadis impiannya diperlakukan seperti itu.

Memperkosa Rani menjadi omongan yang makin serius di setiap pagi. Sampai suatu hari Sugeng bersitegang dengan geng clurit di lapangan setelah pelajaran olah raga. Saat belajar kelompok usai sekolah, Sugeng masih saja membicarakan kelakuan geng clurit. Selain Poe, ada tiga anak yang bergabung dengan kami. Dan Sugeng semakin memproklamirkan permusuhannya dengan geng clurit. Lama-lama aku jadi tak nyaman dengan situasi ini. Tapi kubiarkan saja Sugeng dengan fantasinya jadi superhero penyelamat Rani. Karena bukan itu yang menjadi perhatianku saat itu. Orang-orang dusun tengah melewati jalan setapak tak jauh dari kami. Mereka pulang dan pergi ke kali untuk mandi sore. Orang-orang itu selalu menoleh ke arah kami. Karena tidak ada yang pernah berani berada di tempat kami menggelar tikar dan duduk-duduk di atasnya. Tak jauh dari kami ada sendang yang dikeramatkan orang dusun. Tapi saat aku datang ke sini, tempat ini tidak keramat lagi. Setidaknya untukku dan teman-teman belajarku. Dan yang ada di sini pun sudah jadi temanku. Tapi kali itu yang lewat di depan kami, anak-anak perempuan beberapa tahun di atasku. Seperti biasa, rambut mereka belum kering. Beberapa membawa buntalan kain basah. Mereka tipe orang dusun kebanyakan. Kecuali yang paling belakang. Sepertinya seumuranku. Kulitnya lebih terang. Wajahnya seperti penyanyi anak-anak di televisi. Dan dia selalu tersenyum melihat kami belajar di pinggir sendang. Beberapa tahun kemudian dia menjadi istri ke empat kakekku.

Hari-hari berikutnya situasi agak reda. Kecuali hari dimana kudengar geng clurit menemukan rumah kosong di salah satu kompleks. Di sana banyak bangunan yang belum ditempati. Mereka mungkin mencongkel jendela untuk masuk. Aku tak tahu apakah aku berpikir berlebihan tentang mereka. Sebab rumah kosong itu tak seberapa jauh dengan tempat tinggal Rani.

Di suatu hari gerimis usai pelajaran olah raga, aku dan Poe tidak menemukan Sugeng. Hingga kami kembali ke lapangan bola dan kulihat Sugeng tengah tersungkur dikerumuni lima anak geng clurit di tengah lapangan. Sepertinya mereka habis mengeroyok Sugeng. Aku dan Poe mendekat. Tapi mereka mengancamku. Bagio, kamu striker kami, jangan ikut-ikutan masalah ini. Lalu mereka mengancam keselamatan keluarga Poe. Aku menghentikan langkah karena Poe telah menarik lenganku untuk tidak mendekat. Detik-detik itu aku merasakan dilema. Bila terjadi hal yang paling buruk, mereka tidak akan berani dengan keluarga Sugeng, apalagi dengan kakekku. Tapi Poe, emak dan adik-adiknya akan jadi sasaran empuk kebandelan geng clurit. Aku lihat wajah Poe pucat memelas. Asmanya mulai kambuh. Dan aku hanya bisa mematung saat geng clurit beramai-ramai mengencingi Sugeng.

Hari-hari pun kulalui dengan rasa penyesalan setelah kejadian itu. Beberapa hari Sugeng tidak masuk. Kakak-kakaknya mengadu ke sekolah. Lima orang geng clurit dibawa ke ruang guru. Orang tua mereka dipanggil. Bukan peringatan dari sekolah saja yang mereka terima. Di rumah mereka masih dihajar bapaknya. Kudengar ada yang diikat di pohon kelapa semalaman.

Hari-hari berlalu. Kami pun sering diam. Aku, Poe, Sugeng juga geng clurit. Walau pagi itu kami masih sama-sama menunggu mobil Rani lewat, tapi tak ada yang bersuara sesudahnya.

Hingga hari itu tanggal 17 Agustus. Jam sembilan malam Sugeng dan Poe tiba-tiba datang ke rumahku. Geng clurit akan memperkosa Rani malam ini, kata Sugeng. Kamu temanku, tapi terserah kamu mau ikut apa tidak. Spontan aku melihat Poe. Dia tidak melihatku. Lalu aku mengiyakan ajakan Sugeng.

Walau gerimis, acara tujuh belas agustusan tidak berhenti di kompleks itu. Orang-orang memadat di bawah tratak. Sudah kami kitari tempat itu tapi tak kami temukan seorangpun geng clurit. Juga Rani. Kulihat di panggung ada orkes keroncong. Di meja panitia sudah tidak ada hadiah untuk dibagikan lagi. Anak-anak seumuran kami pasti sudah disuruh pulang. Terbesit aku ke sini cuma menuruti emosi Sugeng saja. Sampai kemudian kuteringat cerita rumah kosong yang ditemukan geng clurit.

Kami bertiga berlari menembus rintik air. Kami tahu di bagian belakang kompleks ini masih banyak rumah yang belum dihuni. Di salah satu gang ada beberapa orang sedang bergegas. Dari suara-suara mereka kami tahu mereka sedang mencari Rani. Kami pun berlari lebih kencang.

Gang-gang bagian belakang kompleks tak berlampu. Rumah-rumah di situ masih kosong. Beberapa rusak dan tertutup tumbuhan liar. Dalam gelap kami menjingkatkan langkah. Selain kucuran hujan, masih bisa kudengar deru sungai yang menderas di belakang bayang-bayang rumah. Kami mengendap siaga karena tak tahu rumah mana yang harus dituju. Sampai terdengar jeritan perempuan, kami pun berlari ke arah suara. Sugeng berlari paling depan. Dia sudah melompat pagar salah satu rumah. Aku dan Poe mengikutinya. Tapi kami tak menemukan jalan masuk. Ventilasi di atas jendela tampaknya terbuka. Sugeng melompat tapi tangannya tak menggapai lubang udara itu. Aku mencoba yang bagian kanan. Sekali lompat kuraih kusennya. Tapi badanku tersangkut saat memasukinya. Tiba-tiba terdengar jeritan perempuan minta tolong. Kali ini jelas suaranya dari rumah sebelah, bukan dari yang sedang kami masuki. Kulihat Sugeng sudah berlari ke sana. Aku berusaha turun tapi badanku masih tersangkut. Sekuat tenaga kukeluarkan badanku hingga kujatuh terjerembab ke tanah. Dengan sedikit pincang, kuikuti arah Sugeng tadi berlari. Walau gelap, masih bisa kulihat bekas telapak Sugeng di tanah becek menuju sebuah jendela yang terbuka. Saat kumasuki jendela itu, kulihat pendar cahaya redup dari salah satu ruang. Aku masuk ke dalam, ke ruangan yang lebih besar. Satu lilin menyala di sudut. Di sebelahnya meringkuk anak perempuan. Di tengah ruang, beberapa orang memakai sarung ninja. Dan Sugeng terkapar di antara kaki mereka. Tangannya memegang perutnya yang basah dengan darah. Cairan merah gelap itu membasahi lantai, memantulkan pendar cahaya lilin.

Aku ingat betul, ada tujuh orang bersarung ninja. Tiga di antaranya menggenggam arit. Satu arit telah terlumuri darah. Tujuh orang. Tiga arit. Dan arit yang basah itu telah terayun di depanku. Pada detik-detik itu kulihat anak perempuan yang ada di sudut. Dalam cahaya lilin, aku tahu itu Rani. Wajahnya lembam seperti bekas pukulan. Ada celana dalam perempuan terserak tak jauh darinya. Lalu kulihat sahabatku yang sudah tidak bergerak. Apa yang bisa kuperbuat. Waktu dia ramai-ramai dikencingi geng clurit, aku tak bergerak sedikit pun. Saat itu segalanya sudah terlambat. Rasa sesal meremukkanku. Kepalaku ingin meledak. Aku tak mampu berpikir apa-apa lagi sampai tanganku terasa panas. Dan sebelum benda besi itu menyentuh kepalaku, panas di tanganku lebih dulu melumat orang yang mengayunkannya. Dia berguling-guling ke lantai. Badannya terselubung kobaran api. Hanya beberapa detik, kulakukan hal yang sama pada dua orang lagi yang membawa arit. Empat orang lainnya hanya sempat kaget, sampai api di tanganku membakar mereka semua.

Butiran air semakin rapat saat kulihat mereka berlarian ke arah sungai. Yang kulakukan hanya berlari di belakang mereka karena marahku masih meluap. Aku menikmati penderitaan mereka, kocar-kacir dimakan api. Lalu satu persatu mereka terjun ke air. Aku berhenti di pinggir sungai yang mulai deras. Kusaksikan dengan bengis orang-orang itu. Mereka berusaha memadamkan api di sekujur tubuh. Tapi api itu tak mau padam, bahkan semakin membesar. Sungai itu menjadi terang sampai ke dasar-dasarnya. Gemuruh air semakin keras. Mereka semakin tenggelam. Mereka seperti bola-bola api yang digulung arus. Ketika sungai mulai meluap, kulihat mereka menjauh. Titik-titik api itu terlihat terang di sana. Lama-lama hilang ditelan gelap dan lebat hujan.

Entah berapa lama aku termangu di depan gelap arus yang menggulung. Baru kusadari teman-temanku sudah ada di sampingku. Mereka pasti sudah menyaksikan semua dari awal. Seperti saat terjadi kebakaran di belakang rumah orang tuaku waktu itu. Tapi bukan hanya mereka. Seseorang telah menjadi saksi peristiwa ini. Ketika kumenoleh ke belakang, seorang anak perempuan berdiri kedinginan di bawah rintik yang mereda. Anak yang hanya kulihat setiap pagi di jalan depan sekolah. Walau gelap dan jauh, aku bisa menangkap sorot matanya. Pandangannya menyimpan sebuah kejadian. Sesuatu yang telah kulakukan dengan tanganku. Tapi sesaat kusadar, Sugeng masih ada di dalam rumah itu. Sekuat tenaga aku berlari di atas tanah basah dan licin. Makin kupercepat lariku karena kulihat api mulai membakar jendela samping rumah. Saat kutemukan Sugeng di dalam, darah telah menggenang di antara tubuhnya. Kutahan tangisku yang mau meledak, karena aku harus mengeluarkannya dari situ. Susah payah kuangkat Sugeng melewati jendela dan kulihat api telah merambat ke langit-langit. Tenagaku habis saat kurebahkan Sugeng di atas tanah yang tergenang. Di ujung gang kulihat Poe berlari ke arahku. Dia bersama banyak orang di belakangnya. Seorang anak perempuan berlari ke kerumunan di belakang Poe. Dia telah ditemukan. Dan beberapa orang berteriak ada kebakaran.

Hujan tak turun lagi saat Poe menghampiriku, menemukan Sugeng tergeletak di depanku tersimpuh. Saat itu kumengerti apa itu kepedihan. Dibuang di tempat ini bukan apa-apa. Tapi melihat Poe terguncang oleh tangisnya membuatku ingin berteriak pada langit kelam. Akhirnya aku hanya bisa merengkuh punggung Poe. Merasakan guncangan tangisnya. Juga guncangan tangisku.

Poe tak berhenti menangis di kuburan Sugeng. Aku menunggunya hingga kupaksa pulang karena dia bersikeras tidur di situ. Kudengar orang-orang menemukan tujuh onggok mayat terbakar yang tak bisa dikenali tersangkut batu di pinggir sungai. Lima anak geng clurit tak pernah terlihat lagi. Dua orang lagi bisa jadi bukan anak sekolah kami. Bisa jadi lebih dewasa dari kami. Waktu itu dua di antara mereka lebih besar posturnya. Mungkin salah satu mereka adalah pembunuh Sugeng. Tapi aku tak banyak bicara pada polisi. Mungkin juga Rani. Mereka dianggap tewas terbakar saat api melalap rumah kosong itu.

Beberapa hari kemudian, saat sinar pagi masih kuning, hanya Poe dan aku terduduk di pinggir jalan lagi sebelum bel masuk berbunyi. Kami terdiam saat sedan hitam mulai terlihat di ujung jalan. Detik-detik itu detik-detik yang sama. Tapi putri kayangan itu tak lagi terlihat angkuh. Ketika sedan melintas di depan kami, Rani memandangiku. Jari tangannya menempel pada kaca. Mata bulat itu mengatakan sesuatu. Sebuah cerita yang terpendam. Sesuatu yang menautkan walau kita tak saling kenal. Sesuatu yang membuat kita lebih dari siapapun. Karena dia mengenal diriku lebih dari siapapun. Lebih dari orang-orang yang mencintaiku. Dan sedan itu menjauh. Itulah saat terakhir aku melihat Rani.

Waktu itu keluarga Rani memutuskan pindah dari kompleks. Sepuluh tahun kemudian aku melihatnya di Yogya. Kuliah di perhotelan. Aku bisa berikan alamat kosnya kalau kau mau. Tapi aku tak yakin dia akan mengatakan yang sebenarnya.

Penyesalan terbesar dalam hidupku baru dimulai. Ketika SMP aku tinggal bersama bapak ibuku. Kakekku dianggap telah berhasil menormalkanku. Sebenarnya aku hanya bertambah besar. Bertambah tahu cara berinteraksi. Itu saja. Tetapi disanalah beban pedihku bertambah. Saat mengetahui adikku tumbuh tidak normal. Umurnya delapan tahun tapi kemampuan berpikirnya masih seperti anak TK.

Itu salahku. Semua orang menyalahkanku atas kondisi adikku. Dia hampir mati saat dilahirkan. Dan aku yang membuatnya begitu. Tiga kali dia tidak naik kelas. Kalaupun naik kelas, itu karena belas kasihan guru-gurunya. Dan aku tahu, ibuku juga menyalahkanku, walau tak mampu menunjukkannya padaku.

Tami adik perempuanku. Dia tidak pantas mencintaiku. Karena aku yang akan mencintainya tanpa batas. Bisa kubayangkan jika dia tumbuh normal. Jadi anak yang membanggakan orang tua. Rambutnya yang tebal dan senyum manisnya akan memikat laki-laki saat remajanya nanti. Tapi kini dia cuma anak yang tak punya teman.

Tama adik laki-lakiku. Anak bungsu orang tuaku. Titisan bapakku. Saat remaja prestasi akademisnya tak diragukan. Basket, Paskibar, karya ilmiah, begitu banyak piala dan trophi di lemari pribadinya. Tama memang anak yang pantas dibanggakan. Tapi Tami anak yang seharusnya disayang. Dan aku anak yang cukup dicintai saja.

Kalau Tami bukan adikku, suatu saat, kalau mau, dia boleh menjadikanku suami. Akan kucintai walau dia membenciku. Kuberikan semua kebahagiaan meski dia meludahiku. Tapi Tami tidak begitu. Setelah lulus SD, dia dianggap tidak dapat lagi mengikuti jenjang berikutnya. Ibuku tetap tak mau memasukkannya ke SLB, karena Tami memang tidak seabnormal mereka. Akhirnya ibuku yang mengajarinya semua. Dan aku sering membacakannya buku cerita. Juga buku ensiklopedi. Aku ingin dia tahu dunia seperti aku mengetahuinya. Tapi dia tahu semua yang aku tahu. Dia tahu semua temanku yang orang tak tahu.

Tapi tetap saja Tami adalah remaja yang akan tumbuh dewasa. Dia sudah mengalami menstruasi pertamanya. Pernah dia tunjukkan padaku foto anak laki-laki remaja masjid gang sebelah. Dia menyukai remaja itu. Tapi kubilang kamu terlalu cantik untuknya. Dan aku tidak terima.

Ya, aku tidak terima orang menyakiti Tami. Seperti saat aku SMA. Tami hilang. Semua orang kalang kabut mencari. Sampai hampir tengah malam dia muncul tertatih. Ibuku tak kuasa menenangkan isakannya. Akhirnya dari ceritanya, orang-orang segera mencari pelaku yang telah menipu Tami. Memanfaatkan kekurangannya. Berlagak menjadi pemuda baik. Mencuri hati gadis yang rindu perhatian lawan jenis ini. Lalu memaksanya. Dan aku orang pertama yang menangkap pemuda ini. Mendaratkan pukulan berkali-kali ke wajahnya. Hingga mukanya becek tertutup darah. Sempat aku dibawa ke kantor polisi. Tapi itu satu-satunya caraku menyalurkan emosi. Supaya aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Untung Tami hanya dilecehkan. Dia masih perawan. Bisa jadi sampai akhir hayatnya. Kadang saat liburan, aku ajak dia ke tempat kakek. Dia menyukai petak-petak sawah di sana. Sungai yang membelah bukit-bukit. Juga Gunung Merapi yang tampak begitu besar. Alam menyatukan aku dan Tami. Tapi kadang aku datang sendiri. Karena di sana aku sering bertemu perempuan dari masa kecilku. Yang saat itu telah menjadi istri ke empat kakekku.

Aku tak pernah tahu namanya. Tapi tetap aku memanggilnya nenek, walau umur kami sama. Nenek kecil. Dia selalu senang bila kupanggil begitu. Keluarganya terlalu miskin hingga dia tak bersekolah. Aku tahu dua adiknya sekolah di SD inpres. Dia anak sulung, harus membantu orang tuanya. Tapi setelah jadi istri kakekku, hidup mereka tak kekurangan lagi. Nenek kecil dapat rumah sendiri di dekat tempat penggilingan padi. Dan kakekku lebih sering tidur di sana dari pada di tempat istri-istrinya yang lain.

Pernah saat baru sampai di tempat kakekku, orang-orang di penggilingan padi berseloroh, opo kowe arep join karo mbahmu (apa kamu mau join sama kakekmu). Aku mengerti, mereka cuma iri. Sebelum diambil kakekku, nenek kecil jadi rebutan pemuda-pemuda sampai ke seberang dusun.

Tapi dia perempuan yang tegar. Dengan kondisinya itu yang dilakukannya cuma tersenyum. Senyumnya makin rekah bila tahu aku datang. Kubayangkan jika dia hidup di keluarga berada. Punya pendidikan. Punya kehidupan. Punya pilihan. Kubilang jika disentuh make up, aku yakin nenek kecil layak masuk televisi. Tapi yang datang malah mucikari, katanya. Hampir saja keluarganya menjualnya. Dengan kakekmu aku bisa dapatkan ketentraman, dalihnya. Ya, siapa yang berani mengganggunya sekarang. Sedulit kulitnya tergores, akan langsung berhadapan dengan kakekku. Tak ada yang berani mendekatinya, apalagi menyentuhnya. Kecuali aku.

Aku tidur dengan nenekku. Nenek kecil yang mencintaiku. Dia mencintaiku sejak melihatku. Di dekat sendang itu katanya. Kakekmu hanya tidur denganku. Tidak menyentuhku. Dia tak mampu atau tak ingin. Hanya kamu yang kucintai. Hanya kamu yang akan menyentuhku.

Dan siang itu kakekku memergoki kami. Saat itu kurasa hidupku tinggal sejengkal. Aku hanya menatap tanah, seperti menyerahkan leherku untuk dipenggal. Nenek kecil berdiri merunduk. Seluruh badannya gemetar. Untuk bersujud mencium kaki kakekku pun dia tidak berani. Tapi kakekku hanya menyuruhku duduk di sampingnya. Dan meminta nenek kecil menyeduh kopi untuk kami berdua. Nenek kecil masih gemetar. Gelas yang dibawanya bergemeretuk keras. Hingga kakekku menyuruhnya meninggalkan kami. Lalu kakekku bercerita tentang ajal yang telah dekat dengannya. Tentang dosa-dosanya. Pada orang-orang yang membencinya. Pada orang-orang di dekatnya. Istri-istrinya. Anak-anaknya. Juga pada ibuku. Lalu matanya menitikkan air. Seperti menahan sedih. Dan itu pertama kali aku melihat kakekku menangis. Hanya kamu nak yang melihatku menangis.

Dan aku tak berani lagi mendekati nenek kecilku. Kenapa, tanyanya suatu waktu. Kakekmu tahu aku mencintaimu. Aku memang tak sekolah, tapi aku bukan orang bodoh. Aku tahu kamu beda, dari dulu, saat kita masih kecil. Dan kakekmu lebih mencintaimu dari pada mencintaiku.

Tapi aku selalu menghindar, walau aku tahu tatapannya padaku. Hingga pada satu liburan aku tidak mengunjungi kakekku. Juga menolak ajakan Tami untuk ke sana. Karena aku hanya ingin sendiri. Bahkan dari teman-teman yang selalu mengikutiku. Aku ingin mencari diriku. Kucopot poster Axl Rose di tembok kamar. Dari SD aku sudah menggilainya. Karena julukannya sama denganku, setan berwajah bayi.

Akhirnya keputusan besar kubuat dalam hidupku. Kupandangi Tami. Tidak, bukan aku yang menyebabkan dia begitu. Bisa jadi masalah medis lain yang tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Aku mulai belajar keras seperti halnya anak normal lainnya. Aku harus masuk fakultas kedokteran. Harus tahu apa yang diderita Tami. Aku akan membuatmu pintar Tami. Suatu saat kamu akan hidup seperti mereka.

Lalu aku mulai meminta teman-temanku untuk tidak mengikutiku lagi. Aku akan melakukan sesuatu dengan memisahkan semua yang ada di belakangku. Tapi kamu masih butuh kami, kata mereka. Aku ingin tak membutuhkan kalian, kataku. Pergilah dariku. Cukup cintai aku saja.

Saat berhasil masuk fakultas kedokteran, bapak ibuku pindah ke Jakarta bersama kedua adikku. Rumah di Yogya dijual. Aku kos dekat kampus. Dan aku kehilangan Tami. Tapi aku mulai menikmati kehidupan baruku. Kuliah, kuliah dan kuliah. Kehidupan yang menyendiri. Tidak ada siapapun, hanya peradaban yang setiap hari terus diulang. Hingga aku dapat beasiswa. Dan Tami selalu menulis surat untukku. Kubaca satu persatu tulisannya yang cakar ayam. Lalu ada dua surat dari mahasiswi teman kampus. Satu amplop warna ping, satu warna kuning. Keduanya aku taruh di bak sampah. Hanya Tami perempuan di otakku saat itu.

Sampai sebuah berita menghentikan waktu peradabanku : kematian kakekku. Tiga tahun tak ke sana, kini yang kutuju tanah kuburan kakekku. Aku terlambat. Mereka telah menaburkan bunga di tanah yang terurug. Tidak ada bapak ibuku di sana. Jakarta jauh mungkin alasannya. Dari kerabat aku dengar kakek meninggal dengan tenang di pangkuan nenekku. Katanya dia sengaja datang ke istri pertamanya saat menjelang ajal. Dia cuma ingin minta maaf. Lalu orang mulai pergi. Tapi aku melihat mereka yang datang mulai bertambah, hingga memadatiku kuburan kakekku. Hingga sore mereka masih di situ. Orang yang lewat di makam ini hanya melihat aku sendiri di depan kakekku terbaring.

Setelah pemakaman itu, semua orang tampaknya sibuk dengan bagian warisan masing-masing. Walau dapat tempat penggilingan padi, aku tak mempedulikannya. Sebab yang kucari adalah nenek kecilku. Sampai kudengar bahwa belum begitu lama kakekku menceraikannya. Dan seorang pemuda telah menikahinya. Pemuda itu Poe sahabatku.

Aku bergegas ke rumah nenek kecil. Kutemukan Poe di sana. Dia begitu erat memelukku, sampai aku hampir jatuh. Dia bilang aku tambah gemuk. Aku bilang dia masih seperti dulu. Lalu dia mencari istrinya di dalam, tapi tak ditemukannya. Mungkin pergi ke warung, katanya. Kami bicara apa saja kecuali tentang Sugeng. Tapi ada ketidaktenangan dalam diriku. Nenek kecil belum juga muncul. Dan Poe tidak pernah berhenti bicara padaku. Sampai dia mengakui betapa beruntungnya bisa menikahi istrinya. Poe cuma tamat SMP. Pekerjaannya mengumpulkan batu di kali untuk dipecah jadi kerikil. Apa yang didapatnya hanya untuk makan berdua. Istrinya sedang hamil muda. Suatu saat dia tak tahu bagaimana menghidupi anaknya. Dia berencana berangkat jadi TKI. Aku diam sejenak. Memikirkan tempat penggilingan padi yang tak terurus waktu kakek mulai sakit. Lalu aku berlagak menawarkan bisnis padanya untuk mengelola penggilingan padi. Dia boleh ambil semua keuntungan dari tempat itu kecuali menjualnya. Poe menatapku lama seperti tak percaya. Lalu dia memelukku. Menangis haru. Sedikit aku singgung kemana istrinya. Kalau lama biasanya ke emaknya, katanya. Lalu aku meminta diri. Mungkin lebih baik aku tidak ketemu nenek kecil. Saat akan berpisah, Poe menahanku dengan sebuah berita. Yang dari tadi sepertinya ditahannya karena berhubungan dengan Sugeng. Kejadiannya sudah lama. Dia bilang rumah tempat Sugeng terbunuh jadi tempat terkutuk. Keluarga yang menghuni setelah kejadian itu tewas semua tergorok. Rumah itu sekarang hampir roboh. Bahkan sebelah-sebelahnya tak ada yang berani menempati. Tapi aku tidak begitu tertarik. Pertemuanku dengan Poe masih dalam terkesan. Dan aku tak tahu dimana nenek kecilku.

Saat kususuri jalan berumput, aku panggil temanku Piyik. Aku tahu, diam-diam dari jauh dia masih mengikutiku. Aku bilang ini terakhir kali aku butuh dia, habis itu dia boleh pergi. Aku tanya dimana nenek kecilku. Lalu dia menunjuk ke sungai berbatu. Saat aku datang, di sana nenek kecil berlari menyusuri arus. Lalu berhenti di balik batu besar muntahan Merapi. Air matanya terkuras hingga kering. Pedih membuatnya lelah. Di batu yang ceper dia tertidur.

Aku pandangi kelok sungai yang tak berujung. Di tempat itu pernah kuterbuang. Tapi di tempat itu pulalah aku pernah begitu dicintai. Aku tertunduk. Saat itu kurasa akan jadi yang terakhir aku di situ. Asap Merapi masih mengepul saat aku melangkah pergi.

NB : Bila ada waktu, aku tuliskan lagi ceritaku. Percaya atau tidak terserah kamu.

Salam,
Kleo